Balapan Formula E Di Mata Pengamat Energi Terbarukan, Momentum Diversifikasi Energi

03 Jun 2022 - 21:19 Wita | Editor: AS

Share

Pengamat Energi Terbarukan, A. Razak Wawo yang juga alumnis Unhas menilai momentum Formula E untuk diversifikasi energi. Foto : WAG Alumni Unhas

“Namun event itu harus dijadikan momentum untuk menjawab tantangan kedepan kita yakni bagaimana menghadirkan dan mendistribusikan sumber energi listrik murah secara merata di seluruh Indonesia. Sehingga ketergantungan masyarakat pada sumber energi fosil mulai dikurangi" A. Razal Wawo, pemerhati Energi Terbarukan 

ikonkata.com, Jakarta-Balapan mobil Formula E yang digelar akhir pekan 4 Juni 2022 di kawasan Ancol Jakarta menaikkan pamor Indonesia di mata Internasional yang mendorong penggunaan kendaraan listrik yang ramah lingkungan.  “Namun event itu harus dijadikan momentum untuk menjawab tantangan kedepan kita yakni bagaimana menghadirkan dan mendistribusikan sumber energi listrik murah secara merata di seluruh Indonesia. Sehingga ketergantungan masyarakat pada sumber energi fosil mulai dikurangi,” ujar praktis yang juga pemerhati energi terbarukan, A.Razak Wawo saat dimintai tanggapannya, Jumat (3/5) di Jakarta.    

Menurut A.Razak yang akbar disapa Puang Bro Acha'  untuk mewujudkan target pemerintah “elektrifikasi” (pemenuhan aliran listrik,red) secara merata di seluruh Indonesia dan harga yang terjangkau maka investasi pembangkitan energi listriknya pun juga harus efisien tanpa adanya praktek mark up. “Kalau cost pembangkit nya juga tinggi yah…sama saja gak ngaruh, karena tentu nanti harga jualnya pun pasti mahal,” jelas Razak.     

Lebih lanjut ia mengungkapkan, diversifikasi energi sangat diperlukan untuk menghindari ketergantungan terhadap satu jenis bahan bakar. Dari segi perlindungan lingkungan, diversifikasi dengan  menggunakan sumber yang dapat terbarukan dan lebih bersih juga dapat mengurangi dampak pemanasan global. 

Indonesia memiliki banyak potensi energi terbarukan, seperti tenaga air, panas bumi, biomasa, angin dan surya, yang bersih dan ramah lingkungan, tetapi pemanfaatannya belum optimal karena biaya pembangkitan pembangkit listrik energi terbarukan masih relatif lebih mahal dibandingkan dengan pembangkitan dengan energi konvensional seperti gas dan batubara.

Razak memberikan contoh, bahwa Indonesia dikaruniai potensi panas bumi yang cukup melimpah karena posisi geografisnya yang berada di daerah cincin api yang secara umum menyimpan potensi pemanfaatan panas bumi yang cukup besar sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan tenaga listrik. Indonesia saat ini baru memanfaatkan potensi energi panas bumi sebesar 4,2%, padahal menguasai 40?ri total potensi panas bumi dunia.

Secara global, Amerika Serikat (AS) saat ini telah menggunakan energi panas bumi sebesar 4.000 MW sehingga tercatat sebagai negara pengguna panas bumi terbesar. Setelah AS, Filipina menduduki peringkatr 1.100 MW.

Selain itu, tambahnya, potensi pemanfaatan panas bumi juga berpotensi menguntungkan secara finansial karena dapat menghemat subsidi listrik APBN yang dialokasikan untuk pengadaan bahan bakar berbasis  fosil untuk pembangkitan listrik.



Share




© 2021 PT Indonesia Konten Kata